Suku di Indonesia _ Tugas IPS
1. Suku Garo (Sumba)
Desa Adat Ratenggaro merupakan salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya. Kata Ratenggaro sendiri berasal dari dua penggalan yaitu ‘rate’ yang berarti kuburan serta ‘garo’ yang merupakan nama suku dari desa tersebut. Dahulu, terjadi peperangan antar suku yang menyebabkan Suku Garo terbunuh dan dikubur pada lokasi tersebut. Kisah inilah yang menyebabkan desa tersebut dinamai Desa Ratenggaro.
Rumah-rumah tradisional Desa Adat Ratenggaro, berada di dekat pantai. Desain arsitektur tradisional dapat terlihat dengan jelas bahkan dari jarak yang cukup jauh. Hal ini dipengaruhi oleh kepercayaan utama masyarakat Desa Adat Ratenggaro yaitu marapu. Marapu menjadi kepercayaan pemujaan terhadap para leluhur yang masih sangat dipegang teguh. Rumah penduduk didesain dengan konsep rumah panggung dan memiliki menara atap yang menjulang tinggi.
Budaya unik lainnya yang dapat kita lihat dari pola permukiman adalah adanya empat rumah khusus yang disakralkan oleh penduduk, yaitu Uma Katode Kataku, Uma Kalam, Uma Katode Kuri, dan Uma Katode Amahu yang mewakili empat penjuru mata angin dan saling berhadapan. Posisi dan jumlah rumah di Desa Adat Ratenggaro tidak pernah berubah sejak dahulu dan seluruh bahan bangunannya merupakan bahan alami yang didapatkan di sekitar mereka. Desa adat Ratenggaro juga memiliki banyak situs megalitik berupa kubur batu tua.
2. Suku Korowai
Suku Korowai merupakan salah satu suku yang hidupnya berpindah-pindah. Meski begitu, mereka tidak bisa berpindah ke lokasi yang bukan hak ulayatnya.
Orang luar membedakan orang Korowai dalam dua kategori, yakni orang Korowai Besi dan orang Korowai Batu. Orang Korowai Besi adalah orang Korowai yang sudah menerima peradaban modern dengan alat-alat besi, seperti kapak, besi, pisau besi, parang besi dan lain sebagainya.
Sedangkan Korowai Batu adalah mereka yang masih hidup dalam zaman batu dan belum tersentuh oleh peradaban modern. Namun demikian, kesatuan bahasa orang Korowai atau Klufo sebagai identitas utama yang membuat mereka sadar bahwa mereka adalah satu yakni Klufo.
Tipe kehidupan Suku Korowai dibagi atas marga atau klien yang secara turun-temurun menjalani kehidupan sehari-harinya dengan meramu di dusun-dusunnya.
Jika mereka berburu kemudian memanah babi, lalu babi tersebut lari dan mati di tanah adat klien atau marga yang lain, maka mereka harus meminta izin terlebih dahulu kepada pemilik tanah tempat babi tersebut mati.
Masyarakat Suku Korowai dijuluki sebagai manusia pohon lantaran memiliki rumah yang berada di atas pepohonan yang cukup tinggi. Rumahnya bisa di ketinggian puluhan meter.
3. Suku Mante
Suku Mante atau juga dieja Mantir, adalah salah satu etnik terawal yang disebut-sebut dalam legenda rakyat pernah mendiami Aceh. Suku ini, bersama suku-suku asli lainnya seperti Lanun, Sakai, Jakun, Senoi, dan Semang, merupakan etnik-etnik pembentuk suku Aceh yang ada sekarang.
Pada abad XVIII, sepasang warga Suku Mante ditangkap lalu dibawa ke hadapan Sultan Aceh. Mereka tidak mau berbicara, makan, maupun minum hingga akhirnya mati. Terkait keberadaan Suku Mante, hingga hari ini tak ada yang mampu mengonfirmasi kebenaran cerita tersebut. Suku Mante masih tetap misterius. Umumnya tinggal di gua-gua, celah gunung. Kalau siang hari berada di alur-alur sungai dalam lembah.
Berbeda dengan manusia kebanyakan, orang Mante digambarkan bertubuh kerdil dengan kisaran tinggi badan sekitar satu meter. Rambut mereka terurai sangat panjang. Mereka beraktivitas dalam keseharian dengan kondisi bertelanjang.
Kendati begitu, mereka memiliki kulit cerah, tubuh berotot dan kasar serta wajah persegi dengan dahi sempit. Kedua alis mata mereka bertemu di pangkal hidung yang tampak pesek. Konon, suku ini merupakan etnis terawal yang membentuk suku lain di Aceh.
Diklaim manusia purba, Mante memiliki bahasa sendiri dalam berinteraksi dengan sesama anggota suku. Bahasa Mante hanya diketahui oleh sesama mereka. Selain itu, bahasa isyarat dominan dipakai suku ini sehari-hari.
4. Suku Punan
Dayak Punan adalah salah satu rumpun suku Dayak yang terdapat di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Di 6 kabupaten di Kalimantan Timur terdapat 8.956 jiwa suku Punan yang tersebar pada 77 lokasi pemukiman.
Suku ini dikenal sebagai "penjaga hutan rimba", karena hidup dan sebaran populasinya banyak ditemui di dalam hutan dan terpisah dari sub-sub Suku Dayak lainnya.
Suku Punan kerap berpindah-pindah bukan semata-mata karena mengikuti siklus alam, tetapi juga untuk menemukan rasa aman dan jauh dari gangguan suku lain. Berburu, mencari sagu, menangkap ikan, dan mengolah tumbuhan menjadi tradisi yang terus diwariskan secara turun-temurun.
Keadaan hidup mereka yang primitif membuat Punan nomaden, menghindar dari kelompok manusia lain. Tak hanya itu, Dayak Pulan juga akan memberikan banyak tanda semisal ada diantara mereka yang meninggal. Setelah dikubur, mereka akan berpindah menuju daerah lain. Hal ini dikarenakan orang Punan mempercayai bahwa roh yang meninggal akan bergentayangan dan membuat hidup mereka tidak tentram.
Namun, saat ini sebagian besar suku Dayak Punan sudah ada yang hidup secara modern. Walaupun begitu, Dayak Punan tidak akan rela hutan mereka dijadikan perusahaan. Terlebih juga dalam sebuah penelitian suku primitif Dayak Punan ini masih ada yang tinggal di goa-goa rimba di pedalaman Kalimantan.
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Comments
Post a Comment